Mengapa Orang Masih Buang Sampah ke Sungai? Penyebab, Dampak, dan Solusi yang Masuk Akal

Mengapa masih ada orang yang membuang sampah ke sungai meskipun dampaknya sudah diketahui? Masalah ini tidak hanya berkaitan dengan kesadaran, tetapi juga dengan layanan pengangkutan, biaya, kebiasaan, desain permukiman, dan lemahnya pengawasan.
Sampah rumah tangga di sungai kawasan permukiman Indonesia
Sungai merupakan bagian penting dari kehidupan banyak masyarakat Indonesia. Sungai digunakan sebagai sumber air, jalur transportasi, ruang ekonomi, tempat mencari ikan, hingga saluran alami ketika hujan turun.
Namun, di banyak wilayah, sungai juga masih diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah.
Kantong plastik, popok sekali pakai, botol, sisa makanan, pakaian, dan kemasan rumah tangga sering terlihat mengambang atau tersangkut di bantaran. Sampah tersebut bukan sekadar merusak pemandangan. Ia dapat mengubah fungsi sungai, menurunkan kualitas air, menghambat aliran, dan memindahkan masalah dari satu rumah ke seluruh wilayah di hilir.
Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya, “Mengapa masyarakat tidak sadar?”
Perilaku membuang sampah ke sungai biasanya terbentuk dari gabungan kebiasaan, keterbatasan layanan, biaya, desain permukiman, norma sosial, dan lemahnya pengawasan. Karena itu, solusi yang hanya mengandalkan spanduk larangan atau kerja bakti sesekali hampir selalu tidak cukup.

Mengapa Sungai Masih Dianggap Sebagai Tempat Sampah?

1. Tidak Ada Layanan Pengangkutan yang Mudah Dijangkau

Alasan paling mendasar sering kali sangat praktis: warga tidak mempunyai tempat lain untuk membuang sampah.
Mobil pengangkut mungkin tidak dapat masuk ke gang sempit. Jadwal pengambilan tidak pasti. Tempat penampungan sementara atau TPS terlalu jauh. Di wilayah lain, biaya iuran pengangkutan dianggap berat bagi sebagian keluarga.
Laporan Bank Dunia mengenai aliran sampah plastik di Indonesia menemukan bahwa sampah yang tidak dikumpulkan memberikan kontribusi lebih besar terhadap kebocoran plastik daripada kebocoran dari tempat pembuangan akhir. Pembuangan langsung ke badan air juga menjadi salah satu jalur utama plastik mencapai sungai, khususnya ketika masyarakat tidak mempunyai akses terhadap layanan pengumpulan sampah.

Contoh Nyata: Sungai Cirasea

Kondisi tersebut pernah dilaporkan di sekitar Sungai Cirasea, Kabupaten Bandung.
Pada 2024, laporan resmi program Citarum Harum menyebutkan bahwa sejumlah permukiman di sepanjang sungai belum mempunyai pengelolaan sampah dan TPS. Setelah sungai dibersihkan, sampah dari wilayah yang lebih atas kembali datang dan memenuhi aliran sungai.
Di salah satu kegiatan pembersihan, sampah yang diangkut bahkan pernah mencapai beberapa truk. Namun, tanpa layanan rutin di permukiman, kondisi serupa dapat kembali terjadi.
Kasus ini menunjukkan bahwa membersihkan sungai tanpa memperbaiki sistem pengelolaan sampah di daratan hanya memindahkan pekerjaan ke hari berikutnya.
Permukiman tepi sungai tanpa fasilitas pengumpulan sampah

2. Sungai Menawarkan Cara Tercepat dan Termurah

Bagi rumah tangga yang menghasilkan sampah setiap hari, sungai dapat terlihat seperti solusi instan: dekat, gratis, dan arus air membawa sampah menjauh.
Dampaknya tidak langsung terlihat oleh orang yang membuang. Kantong yang hilang dari depan rumah seolah-olah membuat masalah selesai. Padahal, sampah hanya berpindah ke tetangga di hilir, saluran drainase, waduk, pesisir, atau laut.
Penelitian terhadap permukiman di sekitar Sungai Ciliwung menunjukkan bahwa kedekatan dengan sungai, kondisi infrastruktur, serta perilaku rumah tangga di sekitarnya dapat memengaruhi cara warga menggunakan sungai, termasuk sebagai lokasi pembuangan sampah. Faktor infrastruktur dan perilaku tetangga bahkan dapat lebih berpengaruh daripada karakteristik demografis rumah tangga.
Artinya, keputusan seseorang tidak muncul di ruang kosong. Pilihan individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik dan sosialnya.

3. Kebiasaan Berubah Menjadi Norma Sosial

Ketika seseorang melihat tetangganya membuang sampah ke sungai tanpa konsekuensi, tindakan tersebut perlahan dianggap normal.
Kalimat seperti berikut sering menjadi pembenaran:
  • “Dari dulu juga begitu.”
  • “Nanti sampahnya hanyut sendiri.”
  • “Semua orang membuang di sana.”
  • “Satu kantong saja tidak akan berpengaruh.”
Masalahnya, norma sosial dapat bekerja dalam dua arah.
Lingkungan yang sudah kotor membuat orang lebih mudah menambahkan sampah karena tempat tersebut dianggap telanjur rusak. Sebaliknya, sungai yang bersih, terpantau, dan dikelola bersama membuat seseorang lebih enggan menjadi pelanggar pertama.
Salah satu penelitian tentang bantaran sungai di Indonesia juga menemukan bahwa akses terbuka dan anggapan bahwa bantaran merupakan ruang bersama dapat mendorong penggunaannya sebagai tempat pembuangan.
Kebiasaan membuang sampah ke sungai menjadi norma sosial

4. Semua Sampah Dianggap Sebagai Benda yang Sama

Banyak rumah tangga belum memiliki sistem sederhana untuk memisahkan sisa makanan, bahan yang masih bernilai jual, dan residu.
Ketika semuanya tercampur—popok, kulit buah, plastik tipis, botol, minyak, kardus, dan pecahan kaca—sampah menjadi basah, bau, serta sulit ditangani. Dalam keadaan tersebut, membuang atau membakar sampah terlihat lebih mudah daripada mengolahnya.
Padahal, pemilahan awal tidak harus rumit:
  • Sisa makanan dan bahan organik ditempatkan secara terpisah.
  • Botol, kardus, kaleng, dan plastik bernilai disimpan dalam kondisi kering.
  • Baterai, lampu, obat, dan perangkat elektronik dipisahkan sebagai sampah khusus.
  • Residu ditempatkan dalam wadah tertutup sambil menunggu pengangkutan.
Pemilahan tidak otomatis menyelesaikan seluruh masalah. Namun, langkah ini mencegah bahan kering tercemar sisa makanan dan memudahkan pengumpulan oleh bank sampah atau pengepul.

5. Edukasi Tidak Disertai Fasilitas

Sebagian masyarakat mungkin sudah mengetahui bahwa membuang sampah ke sungai merupakan tindakan yang salah. Namun, pengetahuan tidak otomatis menghasilkan perilaku baru.
Orang akan sulit berubah apabila tidak tersedia:
  • Tempat sampah atau titik pengumpulan.
  • Layanan pengangkutan rutin.
  • Jadwal yang mudah dipahami.
  • Sistem pemilahan.
  • Kontak petugas yang bertanggung jawab.
  • Biaya layanan yang terjangkau.
Penelitian mengenai sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Semarang menemukan lebih sedikit perilaku pengelolaan yang tidak tepat—seperti membakar sampah di halaman atau membuangnya ke jalan dan sungai—di kawasan yang telah menjalankan pengelolaan berbasis komunitas dibandingkan kawasan dengan sistem konvensional.
Pesannya cukup jelas: perilaku lebih mudah berubah ketika sistem mendukung perubahan tersebut.

6. Pengawasan Lemah dan Tanggung Jawab Tidak Jelas

Sungai sering dipersepsikan sebagai ruang milik bersama. Namun, justru karena dianggap milik bersama, terkadang tidak ada satu pihak pun yang merasa bertanggung jawab penuh.
Pemerintah menunggu partisipasi warga. Warga menunggu fasilitas pemerintah. Pengelola kawasan merasa sungai berada di luar tanggung jawabnya. Sementara itu, sampah terus bergerak mengikuti arus.
Indonesia mempunyai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Undang-undang tersebut menempatkan pengelolaan sampah sebagai kegiatan terpadu yang melibatkan pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, dan dunia usaha.
Namun, aturan hanya efektif ketika diterjemahkan menjadi layanan, pengawasan, insentif, serta konsekuensi yang konsisten.

Dampak Lingkungan: Sampah Tidak Benar-Benar Hilang

1. Aliran Air Tersumbat dan Risiko Banjir Meningkat

Sampah bukan satu-satunya penyebab banjir.
Curah hujan, sedimentasi, berkurangnya daerah resapan, perubahan tata guna lahan, kapasitas drainase, dan pembangunan di kawasan rawan banjir juga berperan. Namun, plastik, kain, kasur, ranting bercampur sampah, serta limbah berukuran besar dapat menyumbat saluran dan mengurangi kapasitas aliran air.
Ketika hujan deras datang, sumbatan membuat air lebih mudah meluap ke jalan dan rumah. Setelah banjir surut, sampah kembali tersebar di permukiman.
Laporan mengenai wilayah Citarum juga menempatkan penumpukan sampah di sungai sebagai salah satu faktor yang memperburuk risiko banjir bersama sedimentasi, kondisi topografi, perubahan lahan, dan faktor lainnya.
Warga yang tidak pernah membuang sampah ke sungai akhirnya tetap ikut menanggung akibatnya.
Sampah menyumbat sungai dan memperparah banjir permukiman

2. Kualitas Air Menurun

Sisa makanan dan bahan organik yang membusuk dapat menurunkan kualitas air. Sampah plastik tidak mudah terurai dan dapat bertahan lama di lingkungan, kemudian pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
Baterai, limbah elektronik, minyak, cairan pembersih, dan bahan kimia rumah tangga yang ikut dibuang juga berpotensi menambah beban pencemaran.
Akibatnya, sungai menjadi semakin tidak layak untuk kebutuhan sehari-hari, kegiatan perikanan, irigasi, maupun rekreasi. Air baku yang tercemar juga memerlukan proses pengolahan yang lebih kompleks.

3. Ekosistem Sungai dan Laut Terganggu

Sampah dapat menutup permukaan air, tersangkut pada vegetasi, mengubah habitat, serta membahayakan satwa yang menelan atau terjerat material plastik.
Masalah tersebut tidak berhenti di sungai.
Bank Dunia memperkirakan sungai membawa sekitar 83 persen sampah plastik tahunan yang bocor dari sumber darat menuju lingkungan laut Indonesia. Angka ini menunjukkan pentingnya sungai sebagai jalur pengangkut sampah dari permukiman menuju pesisir dan laut.
Dengan kata lain, kantong plastik yang dibuang ke anak sungai kecil dapat menempuh perjalanan panjang menuju sungai besar, muara, pantai, dan laut.
Perjalanan sampah plastik dari sungai menuju laut Indonesia

4. Risiko Kesehatan Bertambah

WHO menjelaskan bahwa pembuangan sampah yang tidak aman dapat mencemari air, tanah, dan udara. Sampah juga dapat menyumbat drainase. Banjir dan genangan yang terbentuk dapat meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan air tercemar maupun serangga pembawa penyakit.
Pembakaran terbuka juga bukan solusi yang aman. Asap pembakaran sampah dapat memaparkan warga, anak-anak, dan pekerja sampah pada berbagai polutan.
Risiko biasanya lebih besar bagi:
  • Anak-anak.
  • Lansia.
  • Pekerja informal.
  • Petugas kebersihan.
  • Keluarga yang tinggal dekat sungai.
  • Warga yang masih bergantung pada air sungai.

5. Kerugian Ekonomi dan Sosial

Sungai yang kotor menurunkan kenyamanan lingkungan, mengganggu transportasi air, merusak pemandangan, dan menambah biaya pembersihan.
Pemerintah harus mengerahkan petugas, perahu, truk, alat berat, serta anggaran secara berulang untuk mengambil sampah yang sebenarnya dapat dicegah sejak dari rumah.
Bagi keluarga, banjir dapat berarti:
  • Perabot dan kendaraan rusak.
  • Aktivitas kerja terhenti.
  • Sekolah terganggu.
  • Biaya kesehatan meningkat.
  • Waktu habis untuk membersihkan rumah.
  • Pendapatan harian hilang.
Jadi, membuang sampah secara “gratis” sebenarnya menciptakan biaya yang harus dibayar bersama.

Contoh Perubahan yang Benar-Benar Bekerja

Di beberapa wilayah sekitar Citarum, sosialisasi dari rumah ke rumah serta kerja sama dengan desa, sekolah, dan karang taruna dilaporkan membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengurangi sampah yang terlihat di sungai.
Di Bojongsoang, kelompok masyarakat dan mahasiswa juga terlibat dalam pengangkutan sampah dari sungai, pemilahan bahan yang masih bernilai, pengolahan sampah organik, serta pencarian sumber pembiayaan untuk kegiatan pengelolaan sampah.
Bank sampah memberikan mekanisme lain. Sampah kering dipilah, ditimbang, dicatat, kemudian disalurkan kepada pihak yang dapat memprosesnya. UNDP menyoroti bahwa pemulung dan pengelola bank sampah menjadi bagian penting dari rantai pengumpulan bahan daur ulang di Indonesia.
Namun, bank sampah bukan alasan untuk menghasilkan sampah sebanyak mungkin. Urutan yang lebih tepat adalah:
  1. Mengurangi barang sekali pakai.
  2. Menggunakan kembali barang yang masih layak.
  3. Memilah bahan yang dapat didaur ulang.
  4. Mengelola residu melalui layanan resmi.
Warga Indonesia memilah sampah melalui bank sampah komunitas

Checklist untuk Rumah Tangga

  • Pisahkan sisa makanan, bahan daur ulang kering, dan residu.
  • Simpan residu dalam wadah tertutup agar tidak tercecer atau terbawa hujan.
  • Cari jadwal pengangkutan, TPS3R, bank sampah, pengepul, atau layanan desa terdekat.
  • Jangan membuang minyak jelantah, baterai, lampu, obat, dan barang elektronik ke sungai.
  • Kurangi sachet dan kemasan sekali pakai ketika tersedia pilihan isi ulang.
  • Ajak seluruh anggota keluarga mengikuti sistem pemilahan yang sama.
  • Laporkan titik pembuangan liar kepada RT, RW, kelurahan, atau dinas lingkungan hidup.
  • Ikut kerja bakti sambil tetap mendorong adanya layanan pengangkutan rutin.

Checklist untuk RT, RW, Desa, dan Pemerintah Daerah

  • Petakan rumah yang belum terjangkau layanan pengangkutan.
  • Tentukan titik pengumpulan yang mudah dijangkau warga dan petugas.
  • Tetapkan jadwal, biaya, pengelola, serta kontak pengaduan secara terbuka.
  • Sediakan pemilahan minimal untuk organik, bahan bernilai, dan residu.
  • Libatkan pemulung, pengepul, bank sampah, komunitas, sekolah, dan pelaku usaha.
  • Gunakan penghalang sampah di saluran hanya sebagai perlindungan tambahan.
  • Pantau titik pembuangan liar dan tindak pelanggaran secara konsisten.
  • Ukur hasil berdasarkan jumlah rumah terlayani dan berkurangnya sampah di sungai.
Penyebab dan dampak membuang sampah ke sungai di Indonesia

Kesimpulan: Ubah Sistem, Bukan Hanya Menyalahkan Orang

Membuang sampah ke sungai merupakan tindakan yang merugikan masyarakat dan lingkungan. Namun, masalah ini tidak akan selesai hanya dengan menyebut pelakunya malas, tidak disiplin, atau tidak berpendidikan.
Kebiasaan buruk tumbuh ketika layanan tidak tersedia, biaya tidak terjangkau, ruang publik tidak diawasi, dan masyarakat melihat pelanggaran sebagai sesuatu yang normal.
Solusi yang masuk akal harus menggabungkan:
  • Fasilitas yang mudah digunakan.
  • Pengangkutan rutin.
  • Pemilahan sederhana.
  • Edukasi yang dilakukan berulang.
  • Insentif ekonomi.
  • Keterlibatan masyarakat.
  • Penegakan aturan yang konsisten.
Sungai yang bersih bukan hasil satu hari kerja bakti. Sungai bersih merupakan hasil dari sistem yang membuat pilihan yang benar menjadi pilihan paling mudah setiap hari.
Made on
Tilda